Berteriak dalam kepungan
(2 Tawarikh 18: 1-34)
Ketika membaca kisah
Yosafat saya hanya bisa tercengang dan kagum karena kisahnya begitu luarbiasa.
Yosafat merupakan RAJA YANG BERHASIL. Keberhasilannya bukan didasarkan pada
kemenangan perang, atau berapa negeri yang mampu ia duduki. Dia menjadi raja yang
berhasil karena dia adalah raja yang bisa membawa satu yehuda, baik itu
tentaranya, pahlawannya, bahkan seluruh rakyat beserta keluarganya untuk
bersandar kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
Satu-satunya
kelebihan yang dimiliki Yosafat sebagai raja Yehuda adalah dia raja yang
mengandalkan Tuhan, menaruh penuh kepercayaannya kepada Tuhan dan itu sudah
pasti menjadi kunci baginya sehingga dia menjadi raja yang ahli dalam segala
hal. Ada banyak sifat yang diajarkan Yosafat kepada kita, bahwa sekalipun kita
ada di posisi tertinggi, diangkat menjadi pemimpin, dipercayakan hal besar
namun kita harus tetap merendahkan diri kepada Tuhan, tabah hati, tulus ikhlas,
dan senantiasa bersandar kepada Tuhan.
Mari kita lihat
bagaimana Yosafat menghadapi orang Aram. Yosafat pernah mendapat pengalaman
perang bersama dengan mertuanya yakni raja Ahab, raja Israel (2 Taw 18:1-34).
Kisah ini begitu menarik, karena Allah sendiri yang membiarkan roh dusta
menguasai nabi-nabi di Israel untuk membujuknya maju berperang melawan
Ramot-Gilead. Peperangan yang dialami oleh raja Ahab sesungguhnya bukan melawan
Ramot-Gilead melainkan itu perlawanan ALLAH terhadapnya, tidak ada roh Tuhan
dalam dirinya, sehingga Tuhan memakai peperangan ini untuk menunjukkan bahwa
Dialah Allah yang selama ini ditinggalkan oleh bangsa Israel. Dan di dalam
peperangan ini terlanjur melibatkan Yosafat.
2 Tawarikh 18:29 "Raja Israel berkata kepada Yosafat: "Aku akan menyamar dan masuk pertempuran, tetapi engkau pakailah pakaian kebesaranmu" lalu menyamarlah raja Israel kemudian mereka masuk ke pertempuran".
Ketika membaca ayat
ini, ada sedikit kejanggalan yang saya temukan. Ada ketakutan tersembunyi dari
Ahab. Dia telah menanyai semua nabi dan semua nabi mengatakan bahwa dia akan
menang dalam peperangan ini,hanya satu nabi yaitu Mikha yang mengatakan bahwa Israel
akan tercerai berai. Setelah mendengar nubuat dari nabi Mikha, Ahab belum
menunjukkan ketakutannya bahkan dia malah memenjarakan Mikha dan yakin bahwa
apa yang dikatakan Mikha itu salah.
Namun perbuatannya
tidak sejalan dengan apa yang dikatakan. Ahab takut, dia menyamar bahkan sampai
menyuruh Yosafat yang maju di depan tampil sebagai raja. Bisa jadi ini menjadi
siasat raja Ahab untuk membuat dirinya selamat dan dia ingin Yosafatlah yang
mati. Sifat pengecut seorang raja karena sebenarnya dia tahu bahwa selama ini
dia telah meninggalkan Tuhan dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Dia
tahu bahwa dalam peperangan itu, Allah tidak berpihak kepadanya akhirnya dia
bersembunyi.
Bertolak sejenak
dari apa yang dirasakan Ahab, mari kita lihat apa yang dialami Yosafat dalam
peperangan tersebut. Yosafat memakai pakaian kebesarannya, hal itu membuat dia
sangat mencolok dan semua orang tahu bahwa dia adalah raja. Bahkan dalam 2
tawarikh 18:30 dikatakan dengan jelas bahwa raja Aram memerintah pasukan untuk
tidak sembarang menyerang, melainkan fokus melawan raja Israel. Yosafat ada
dalam ancaman besar. Tetapi Allah menyertainya.
2 Tawarikh 18:31 " segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat Yosafat, mereka berkata: "itu raja Israel!" lalu mereka mengepung dia, untuk menyerang dia, tetapi Yosafat berteriak dan TUHAN menolongnya. Allah membujuk mereka pergi dari padanya"
Yosafat dalam
kepungan, kita bisa bayangkan bagaimana dia dikepung. Tidak ada jalan keluar,
tidak bisa melakukan apa-apa dan satu lawan banyak. Tentu sangat kecil sekali
kemungkinan bagi Yosafat untuk selamat dari kepungan tersebut. Tapi apa yang
dilakukan Yosafat membuatnya selamat, dia memilih berteriak kepada Tuhan. Bisa
dibayangkan bagaimana Yosafat berteriak dia benar-benar meminta tolong kepada
Tuhan. Keputusan Yosafat untuk berteriak kepada Tuhan mungkin menampar kita
semua yang seringkali dalam kesesakan atau dalam melakukan suatu hal kita lebih
memilih untuk memakai cara kita sendiri. Bisa saja Yosafat berteriak memanggil
pasukannya untuk menolongnya, tapi sekali lagi Yosafat memilih berteriak kepada
Tuhan, Dia tahu bahwa hanya Allah saja yang sanggup membebaskannya. Dan benar
saja, peristiwa ini adalah bukti nyata bahwa Allah berperang ganti kita. Allah
yang membujuk para pasukan untuk pergi dari padanya. Luar biasa!
Allah menyelamatkan
orang yang mengandalkanNya, Dia pegang janjiNya.
Lalu bagaimana nasib
Ahab?
2 Tawarikh 18:33 "Tetapi seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja, dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia berkata kepada pengemudi keretanya: "Putar! Bawa aku keluar pertempuran, sebab aku sudah luka"
Ahab yang dengan
sekuat tenaga menyembunyikan identitasnya supaya selamat dalam peperangan malah
terkena panah yang dengan sembarang ditembakkan kepadanya. Ahab adalah gambaran
orang yang meninggalkan Tuhan dan memkai caranya sendiri dalam berperang, dia
telah berdosa kepada Tuhan, menjadi raja yang membuat kaumnya menjauh dari
Tuhan. Dan Tuhan melakukan balasan setimpal dengan perbuatannya.
Sangat bertolak
belakang sekali apa yang di alami oleh raja Ahab dan raja Yosafat. Yosafat
tidak melakukan apa-apa selain berteriak kepada Tuhan dan dia selamat, sedangkan
Ahab melakukan segala sesuatu dengan caranya justru mati karena panah
sembarangan.
Mari kita belajar :)
PDC-
Komentar
Posting Komentar