Haus dan Lapar

Haus dan lapar akan kebenaran.

Matius 5 : 6

Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, Karena mereka akan dipuaskan. 

Sebagai manusia tentu saja kita tidak asing dengan kata haus dan lapar. Karena ini menyangkut hal yang penting bagaimana kita sebagai manusia kita dapat bertahan untuk "Hidup". Manusia jasmani sangat memahami bagaimana kita bisa hidup jika terus memberi makan dan memberi minum tubuh kita. 
Makan dan minum bukan hal yang biasa dalam hidup kita. Beberapa hari saya belajar hal baru tentang kategori prioritas hidup. Dan tingkat prioritas tertinggi adalah kategori penting dan mendesak apa itu? Yaitu hal yang benar-benar tidak bisa kita lewatkan dalam hidup kita. Dan tentu saja makan dan minum masuk dalam kategori itu. Bagaimana jika menunda makan dan minum? Tubuh akan merespon entahlah semakin lemah atau menjadi sangat lemah, yang jika dilanjutkan hingga beberapa hari atau minggu akan berakibat fatal yaitu "Kematian". Itulah mengapa makan dan minum menjadi hal yang penting bagi " Kehidupan" manusia.

Haus dan lapar artinya sangat merindukan atau menginginkan hingga tak bisa ditahan lagi. Orang yang telah merasakan haus dan lapar tidak akan bisa menahan dirinya untuk makan dan minum memuaskan hasrat dirinya untuk di kenyangkan dan di puaskan dengan makanan atau minuman.

Saya sungguh mengagumi bagaimana cara Allah mengajar kita manusia dengan hal-hal yang sungguh kelihatan mata, untuk membandingkan, mengajarkan, bahkan memberikan pengertian bahwa sesungguhnya tak ada bedanya manusia jasmani dan rohani kita harus senantiasa kita jaga. Namun seringkali manusia hanya berfokus pada kehidupan jasmani seolah olah tidak memiliki kehidupan rohani, berfokus pada apa yang kelihatan mata namun lupa akan sesuatu yang lebih penting yaitu apa yang ada dalam diri kita, melupakan kehidupan kekekalan dan hanya berfokus untuk tetap hidup dalam tubuh jasmani yang sebenarnya hanyalah kemah sementara dan ada waktunya kita benar-benar meninggalkan kemah sementara ini. 

2 Korintus 5:1 (TB)  Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

Lantas bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Apakah kita merasakan haus dan lapar sebagaimana tubuh jasmani kita? Apakah kita haus dan lapar akan kebenaran itu? Dan memiliki hasrat untuk memuaskan diri kita dengan kebenaran Allah?

Kebenaran memiliki pengertian hidup dalam ketaatan akan firman Allah.
Kehidupan Kekristenan yang dangkal adalah ketika kita cukup dengan kata "percaya akan kebenaran" itu memang benar, tapi sepertinya jika kita berpegang dalam hal itu maka bisa jadi kita hidup sebagai bayi rohani selama ini. 
Percaya kepada Yesus sebagai Allah merupakan hal yang akan membawa kehiduoan. Tapi apakah itu cukup? Perlukah kita memelihara dan menjaga kehidupan itu?

Percaya bahwa makanan dapat membuat kita kenyang tidak cukup! Percaya bahwa minum dapat menghilangkan dahaga pun tak cukup. Apa yang harus kita lakukan? Tentu saja, kita harus memakan dan meminumnya. Artinya bahwa kita harus memasukan makanan dan minuman itu ke mulut kita dan kita benar-benar mengkonsumsinya agar setiap zat zat yang terkandung dalam makanan dan minuman itu dapat mengaktifkan sel sel dalam diri kita untuk dapat bergerak dan menjadi sehat.

Demikian pula dengan kebenaran. Tidak hanya cukup untuk dipercayai, tapi bagaimana seharusnya kita memakan kebenaran, mengkonsumsinya untuk akhirnya menjadi kekuatan bagi kehidupan rohani kita. Saya mengartikan mengkonsumsi dengan pengertian memahami dan menghayati kebenaran itu. Bukan hanya sekedar tahu permukaan tapi benar-benar mendalami apa itu kebenaran, bagaimana hidup dalam kebenaran, itulah cara agar kehidupan rohani kita terus terpelihara dalam Kristus Tuhan kita.

Satu-satunya cara kita dapat dipuaskan secara rohani adalah terus haus dan lapar akan kebenaran. Menjadi orang yang benar-benar setiap hari rindu dan tak bisa menahan untuk membaca Firman Tuhan sebagai makanan rohani, dan hidup dalam penyembahan, memuji dan mengagungkan nama Tuhan setiap hari. Itulah yang menjadi kunci kita memelihara kehidupan rohani.

Jangan biarkan hidup kita hanya berfokus pada hal jasmani yang kelihatan mata dan nikmat bagi dunia. Jika tubuh kita bisa merasakan haus dan lapar maka demikian pula kehidupan rohani kita yang justru sebenarnya lebih penting karena jika kita terus hidup dalam haus dan lapar akan kebenaran maka kita telah mendapatkan kehidupan kekal itu. Menjalani hidup di dunia yang fana bersama Tuhan adalah hal terbaik sembari mempersiapkan kehidupan kekal untuk selamanya bersama Yesus.

Haleluya! 
Prisciliadc

Komentar